Alt/Text Gambar

Langkah Membentuk Budaya Saling Percaya

Written By erwin taniema on Rabu, 29 Agustus 2012 | 08.13



Budaya saling percaya di dunia kerja memang menjadi tugas tiap orang yang ada di lingkungan kerja itu. Namun, atasan tetap memegang peranan penting untuk menciptakannya. Bagaimana caranya?? 

1.       Pertemuan langsung.
Pertemuan langsung memberikan lebih banyak kesan serta keuntungan bagi anda dan lawan bicara anda, daripada jika anda hanya bicara melalui telepon, email, dsb. Bertemu secara langsung dengan seseorang yang berkepentingan (bukan perwakilannya) juga menumbuhkan rasa percaya. Karena itu, jika memang memungkinkan, utamakan bertemu langsung. 

2.       Terbuka.
Jangan berikan informasi secara setengah-setengah atau tidak lengkap. Namun, berikan informasi yang detail serta terbuka sehingga tidak terjadi simpang siur berita.

 3.       Mengakui Kesalahan.
Saat melakukan kesalahan, mengakui dan fokus pada solusi untuk memperbaiki dan langkah agar kesalahan yang sama tidak terulang, adalah kewajiban bagi anda yang ingin bisa dipercaya. Jangan menyimpan atau menutup-nutupi sebuah kesalahan untuk kemudian orang lain yang menemukannya. Jika ini yang terjadi, atmosfer saling percaya akan sulit tercipta. 

4.       Jangan Biarkan Terbentuknya Kubu-Kubu.
Selera dan kecocokan memang adalah hal yang unik dank has. Tapi, jangan biarkan hal itu membentuk kubu-kubu dalam organisasi. Demikian juga, hindari gap ini dalam konteks antar divisi, cabang atau departemen. Banyak office politics, konflik, bermula dari hal seperti ini. Perusahaan yang seharusnya adalah sebuah kesatuan, justru menjadi terpecah-pecah dan saling berkonflik dalam internal organisasi yang jelas tak akan membuat organisasi itu bisa bekerja dengan baik. 

5.       Sebarkan Cerita Positif.
Daripada menyebar gossip yang cenderung menggunjingkan keburukan orang lain, sebarkan berita yang positif saja. Hal-hal baik tentang rekan kerja, atasan, bawahan, dan sebagainya harus lebih sering disebarkan supaya saling percaya akan kualitas dan kompetensi rekan kerja, atasan, dan bawahan juga makin tercipta. 

6.       Luruskan Rumor.
Rumor negative yang berkembang di lingkungan pekerjaan harus segera diklarifikasi oleh orang yang memang memiliki kuasa atau posisi untuk melakukannya (HRD, manajer, atau atasan). Benih-benih kecurigaan harus segera dihilangkan sejak dini agar informasinya tidak makin simpang siur. 

7.       Perubahaan Harus Disertai Alasan.
Jika ada perubahan dalam manajemen dan sistem kerja, maka perubahaan ini harus diinformasikan secara jelas, khususnya kepada orang-orang yang mungkin terkait. Berikan alasan dibalik perubahan ini, sehingga mereka juga bisa mengerti tujuan mereka melakukan sesuatu. Jangan biarkan karyawan bertanya-tanya apa yang sebenarnya perusahaan sedang lakukan. Sikap bertanya-tanya itu jika tidak ditindaklanjuti dengan baik akan berkembang menjadi sikap curiga, yang akhirnya memengaruhi kerja. 

8.       Tahu Tugas Masing-Masing.
Setidaknya, tiap orang (di bawah satu departemen khususnya) harus tahu mengenai job description dan tanggung jawab rekan-rekannya yang lain. Ini agar jangan sampai muncul rasa curiga, cemburu, merasa diperlakukan tidak adil dan jangan keliru meraih kepercayaan.

9.       Melakukan yang Dikatakan.
Atasan harus bisa melakukan apa yang dikatakannya (punya integritas). Perkataan apalagi janji yang diucapkan seorang pemimpin adalah hal yang sering kali menjadi dasar dari harapan anak buahnya. Bayangkan betapa kepercayaan itu akan runtuh jika pemimpin mereka tidak konsisten. Tentu saja, jika memang Karena satu dan lain hal, janji itu tidak dapat kita penuhi, kita bisa tetap memperoleh kepercayaan asal kita bisa terbuka dan menjelaskan alasannya.

Semoga bermanfaat..

Artikel terkait :
1. Cara Keliru Meraih Kepercayaan
2. Prinsip Meraih Kepercayaan di Tempat Kerja

3. Menjadi Orang yang bisa dipercaya.
4. Orang Muda yang mencintai kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar